Memburu Golden Sunrise di bukit Sikunir, Dieng

Memburu Golden Sunrise di bukit Sikunir, Dieng, Wonosobo

Akhirnya kesampean juga melihat langsung golden sunrise di bukit sikunir, karena sebelumya ada teman yang “pamer” foto di facebook yang sedang menikmati indahnya golden sunrise sikunir. Sebelumnya sih belum tahu apa golden sunrise sikunir itu, setelah googling akhirnya malah tambah ingin untuk mencicipi golden sunrise itu secara langsung.

Mungkin belum banyak yang tahu kalo di kawasan dataran tinggi Dieng ada tempat yang cukup indah dan mempesona, saya sebelumnya juga hanya tahu kalo dieng itu yang Cuma kawah dieng dan telaga warna, mitos rambut gimbal serta buah khasnya, yaitu buah carica.

Setelah sekian minggu akhirnya rasa penasaran untuk mencicipi golden sunrise dan dinginnya udara di kawasan dieng terwujud, yaitu pada tanggal 1-2 oktober 2014. Saya bersama 5 teman lainnya yang sedang menempuh kuliah di jogja memberanikan diri untuk mecicipi indahnya golden sunrise. [ Rombongan: Aku, Apip, Idhab, Adi, Papa, Baghuz] .

Perjalanan menuju Sikunir

Target utama perjalanan kali ini adalah mandi tengah malam di kali anget dan menikmati Golden Sunrise di bukit Sikunir. Kami berangkat dari kota Jogja pada Hari Rabu, tanggal 1 Oktober 2014 sekitar jam 21.00 WIB menggunakan gerobak roda 4 milik papa.

Kabut di alun-alun Wonosobo

Kabut di alun-alun Wonosobo

Jam 00.00 tengah malam kami singgah di alun-alun wonosobo beberapa menit untuk menikmati kabut malam yang menyelimuti alun-alun Kota Wonosobo, karna jarang ada alun-alun yang ditutupi kabut seperti di wonosobo ini.

Setelah beberapa menit menikmati kabut di alun-alun wonosobo, perjalanan kami lanjutkan menuju pemandian sumber air hangat “ Kali anget”. Waktu yang di tempuh dari alun-alun wonosobo ke kali anget sekitar 15 menitan.

Berendam tengah malam di Kali Anget

Kali anget merupakan suatu kawasan yang mempunyai sumber air hangat, makanya di namakan kali anget, hehee… Tempatnya cukup tersembunyi, bagi  yang belum pernah kesana mungkin bisa kesasar, karena tempat sumber mata air hangatnya ada ditengah sawah. Kalo dari arah alun wonosobo keutara, terus belok kanan,  beberapa ratus meter ada perumahan belok kiri.

Jarak dari parkiran ke tempat pemandiannya sekitar 200 meter dan melewati sawah-sawah. Walaupun tengah malam disitu tetap ada yang jaga, jangan khawatir kalau tutup, karena mandi malam-malam lebih mengasikan.

Sampai di tempat pemandian kali anget sekitar jam 00.30 WIB, dan disana sudah ada beberapa orang yang sudah mandi, kami pun tak tunggu lama-lama untuk merasakan mandi tengah malam. Sebelumnya ketika masih di jogja berpikir ngapain mandi di tengah malam, apa tidak kedinginan??. Tapi setelah menikmati air hangat yang berasal dari sumbernya langsung ternyata sangat betah berlama-lama berendam di pemandian kali anget.

Di pemandian sudah dibangun tempat khusus untuk berendam, jadi tidak dialam terbuka.  Yang lebih menggembirakan lagi, berendam disana tidak dikenakan biaya alias gratis,  hanya membayar sewa locker jika membutuhkannya. Antara kolam untuk laki-laki dan perempuan juga dipisah, dan kolam pemandiannnya tidak dalam, paling hanya sekitar  50 cm.

Fasilitas yang tersedia di komlek pemandian tersedia kantin, karna setelah berendam beberapa lama akan perut akan terasa lapar.

Setelah sekitar satu jam berendam di air anget, kami segera ganti baju dan ngantin dulu, untuk menghangatkan badan lagi, karena setelah keluar dari kolam, dingin kembali melanda. Jam menunjukan pukul 2 kurang sedikit, kami-pun bergegas melanjutkan perjalanan menuju target  utama yaitu Golden Sunrise di bukit sikunir.

Menuju Dieng Plateau

Dari kali anget tadi perjalanan dilanjutkan ke kawasan dieng plateau, menuju ke utara. Suasana dingin sangat terasa sepanjang perjalan yang naik terus, dan berkelok-kelok. Sebelum sampai di kawasan dieng ada gerbang masuk tempat untuk membayar HTM (harga tiket masuk) kawasan dieng plateau.

Walau tengah malam tetap ada yang jaga, perorang dikenakan biaya Rp.2000, kami rombongan ber-6 hanya di suruh mbayar Rp10.000 itu termasuk kendaraan yang kami tumpangi. Setelah membayar kami hanya dikasih petah kawasan wisata dieng plateau, kami-pun melanjutkan perjalanan.

Jalan yang kami lewati menuju kawasan dieng cukup sepi karena dini hari, udara cukup dingin bagi yang tidak terbiasa tinggal di kawasan gunung. Jalan yang menanjak, berkelok kami nikmati ada yang sambil terlelap tidur, tapi saya tidak bisa memejamkan mata selama perjalanan ini.

kawasan dieng plateau

kawasan dieng plateau

Setelah tiba di gapura kami berhenti sebentar untuk mengabadikan moment ini dengan berfoto di depan gapura “Kawasan Dieng Plateau”. Ketika kami bertiga (aku, idhab, apip) keluar dari kendaraan untuk berfoto-foto, karena udara sangat dingin jadi tidak kuat lama-lama, kami-pun segera melanjutkan perjalanan menuju bukit sikunir.

Berbekal peta kawasan dieng akhirnya kami sampai juga di kawasan bukit Sikunir yang terletak di Desa Sembungan, Kejajar, Wonosobo. sebelum sampai di area parkir sikunir jalan yang dilalui kurang baik, cukup  sempit dan juga kurangnya penerangan jalan, jadi perlu pelan dan hati-hati.  Sebelum masuk kawasan sikunir pengunjung di kenakan HTM Rp5.000 /orang.

 

Memburu Golden Sunrise di puncak sikunir

Persiapan sebelum naik ke puncak sikunir

Persiapan sebelum naik ke puncak sikunir

Sampai di area parkir sikunir sekitar jam 03.20, di situ sudah banyak wisatawan yang sudah menunggu untuk naik ke puncak sikunir. Kami berhenti sejenak sambil menghangatkan badan  dengan memesan kopi hangat. Walau dini hari tapi warung-warung tetap buka untuk melayani pengunjung yang datang. Di area parkir ini juga tersedia kaos tangan, kaos kaki, syal, mungkin bagi yang lupa membawa dari rumah , bisa membeli di tempat ini.

Setelah istirahat 20 menit kami segera bersiap menuju puncak Sikunir bersama rombongan, tentunya masih ber-6. Selain rombongan kami masih ada juga rombongan lain yang naik bersama kami, karena yang datang ke tempat ini rata-rata rombongan.

Menghangatkan badan

Menghangatkan badan di api unggun

Bisa dibayangkan hawa dingin yang sangat dan harus berjalan menanjak gunung bagaimana rasanya (rasanya begitu woww). Perjalanan menuju puncak tidak ada penerangan, jadi kalau yang rencana mau ke sikunir disarankan untuk membawa senter juga untuk menerangi selama perjalanan menuju puncak.

Akhirnya puncak Sikunir kami gapai setelah berjalan sekitar 20 menit, tak disangka dan tak kami duga, ternyata di puncak sudah banyak orang yang menunggu matahari terbit. Selain yang baru naik banyak juga yang membuat tenda di puncak sikunir.

Beberapa menit dipuncak, terdengar suara adzan yang menggema yang berasal dari desa-desa di kaki puncak sikunir. Kemudian sholat subuh sejenak di puncak sikunir( rasanya woooww banget).

Semakin bertambah menit semakin banyak orang yang sampai kepuncak sikunir ini, karena udaranya dingin banget, kamipun ikut gabung di sekitar api unggun bersama rombongan dari semarang.

Walau hari itu adalah hari kamis pagi dan bukan hari libur, tapi pengunjungnya cukup banyak, apalagi kalo hari libur bisa dipastikan pengunung ke puncak sikunir ini akan membludak.  Di puncak juga ada orang jualan minuman hangat, lumayan khan bisa untuk menghangatkan badan.

Golden Sunrise muncul

Golden Sunrise puncak sikunir

Dari kiri: Apip, Aku, Idhab, Adi, Papa, Baghuz

Sekitar jam 5 lebih sedikit, suasana mulai terang seiring dengan munculnya sang mentari dari ufuk timur. Ketika sang mentari pelan tapi pasti mulai muncul dibalik gunung yang kokoh, para pemburu golden sunrise-pun mengabadikan moment langka ini. Ada yang selfie, ada yang rombongan, pokoknya tidak bisa ditulis dengan kata-kata.

Golden sunrise

Puncak sikunir, menanti Golden sunrise

Pemandangan yang sungguh luar biasa indahnya, Perlahan-lahan awan-awan putih kemerahan muncul disaat keluar nya golden sunrise dari puncak gunung Sikunir ini. karena perpaduan cahaya putih dan merah sehinga cahaya yang keluar dari matahari ini berwarna keemasan sehingga kami pun menyebutnya dengan golden sunrise sikunir.

Selfie  saat golden sunrise di puncak sikunir

Mulai dari warna orange, lalu berubah menjadi warna kuning dan berubah menjadi warna kuning keemasan. Dan akhirnya sang surya perlahan demi perlahan menampakan diri dengan indahnya. Menghalau gelap daerah sekitarnya menjadi terang. Tak salah jika daerah ini terkenal dengan golden sunrise sikunir. Ketika suasana mulai terang , dari puncak ini terlihat puncak, Sindoro, Merbabu, dan Gunung Ungaran pun nampak begitu kokoh menjulang menyapa sang mentari yang baru bangun.

golden sunrise

Golden sunrise sikunir

Setelah puas menikmati Golden Sunrise, kami segera kembali ke tempat parkir, selama turun dari puncak sikunir ternyata samping jalur pendakian adalah tebing-tebing curam yang ketika mendakai tidak kelihatan. Ketika akan sampai di area parkir baru tersadar kalau tempat parkirnya ditepi telaga, yaitu telaga cebong. Sampai di area parkir kami istirahat sejenak sebelum melanjutkan ke Telaga Warna.

Desa tertinggi di Pulau Jawa

Sembungan village

Desa tertinggi di jawa

Area telaga cebong ini merupakan kawasan desa  Sembungan, dan desa Sembungan merupakan desa tertinggi yang ada di pulau jawa.

Menengok kondisi Telaga Warna

Karena masih di kawasan dieng plateau dan jaraknya dekat dengan bukit sikunir, maka kami memutuskan untuk mencicipi bau belerang yang ada yang ada di telaga warna. Karna masih pagi suasana diparkiran telaga warna masih sepi, dan kami rombongan pertama yang parkir di situ.

Telaga warna

Telaga warna

Untuk masuk ke kawasan telaga warna dikenakan HTM Rp5.000. sampai di sekitar telaga warna aroma menyengat dari belerang mulai terciup tajam. Sebelumnya terbayang kalau telaga warna itu tempatnya keren, seperti di gambar-gambar internet, ternyata setelah menikmatai sendiri ternyata tidak seperti yang ada di gambar-gambar. Kondisi telaga yang airnya menyusut (mungkin karna musim kemarau) dan kondisi lingkungan telaga warna yang menurut saya tidak terawat dengan baik, dan kami-pun menikmat baunya belerang beberapa lama, sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari kawasan telaga warna dan melanjutkan perjalanan.

sikunir

sikunir, golden sunrise

Jadibaru

Orang bijak selalu tinggalkan jejak, :)

You may also like...

6 Responses

  1. keren gan , kaya film 5 cm :D
    komen back

  2. Ganang says:

    Wuih,,,penulis baru ki. Keren kang panjang lebar berisi. he…

  3. Mantap bos, aku ngesuk nek nganah meneh dijak ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>