Tiada Iman tanpa malu

“Setiap agama mempunyai akhlak. Dan akhlak Islam adalah malu” (HR Ibn Majah)

Manusia akan hidup dalam kebaikan selama rasa malu masih terpelihara, sebagaimana dahan akan tetap segar selama masih terbungkus kulitnya. Dalam perkembangan zaman yang dikatakan semakin modern ini, rasa malu telah semakin jauh ditinggalkan. Banyak peristiwa yang kita saksikan dari pengamatan kita secara langsung, maupun dari media masa dan elektronik yang menggambarkan betapa rasa malu telah hilang dari sebagian masyarakat kita. Sebagai contoh misalnya, secara kodrat, kaum wanita sangat beruntung, dianugrahi fitrah penciptaannya  dengan rasa malu yang lebih dominan dibandingkan dengan pria. Namun, ironisnya, kini banyak sekali wanita yang justru berusaha mencampakkan jauh-jauh sifat mulia dan terpuji itu. Sehingga, banyak kita jumpai saat ini kaum wanita yang lebih tidak tahu malu daripada laki-laki. Buktinya, sekarang kaum wanita lebih banyak yang menampakkan kemolekan bentuk tubuhnya dalam berpakaian daripada kaum pria. Dalam kasus lain misalnya, betapa banyak para pejabat pemerintah dan elit birokrat yang terjerat kasus korupsi, namun banyak dari mereka yang malah selalu tersenyum manis dan melambaikan tangan saat akan disidang, seolah-olah perbuatannya itu adalah baik dan biasa-saja saja.

Malu adalah Iman

Lunturnya sifat malu dalam masyarakat merupakan salah satu parameter degradasi iman. Sebab, rasa malu akan segera menyingkir dengan sendirinya tatkala iman sudah terkikis. Sebagaimana sabda Rasululloh saw, yang artinya: “Malu dan iman saling berpasangan. Bila salah satunya hilang, maka yang lain turut hilang.” (HR: Hakim dalam kitab Al-Mustadrak, ia berkata hadits ini shahih dengan syarat Bukhari Muslim dan Dzahabi menyepakatinya)

Rasululloh saw pernah melewati seorang laki-laki Anshar yang mencela sifat malu saudaranya. Maka Rasululloh saw bersabda, yang artinya: “Tinggalkan dia. Sesungguhnya malu itu sebagian dari iman.” Dari Abi Hurairah ra, Rasululloh saw. bersabda, yang artinya: “Iman itu ada tujuh puluh bagian. Yang paling tinggi adalah kalimat ‘la ilaha illallah’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri di jalan. Dan malu adalah bagian dari iman.” (HR: Bukhari)

Malu dan Minder

Banyak orang mengira bahwa malu artinya rendah diri dan minder. Sebenarnya, antara minder dan malu amat jauh perbedaannya. Minder oleh para psikolog didefinisikan sebagai kebingungungan yang muncul pada diri manusia sebagai akibat dari situasi tertentu. Misalnya, ketika seorang guru bertanya pada murid. Murid tersebut kemudian merasa minder dan tidak bisa memaparkan pendapatnya dengan jelas. Minder bersumber dari sifat pengecut dan dari rasa takut. Pribadi minder adalah pribadi lemah, yaitu pribadi yang tidak mengetahui nilai yang ada pada dirinya. Sedangkan malu, adalah sebaliknya. Malu bersumber dari pribadi kuat, yaitu pribadi yang menyadari nilai dirinya. Pribadi mulia yang enggan melakukan perbuatan tercela. Jadi, malu dan minder itu adalah berlawanan.

Dari penjelasan diatas dapat kita pahami bahwa mempunyai sifat malu bukan berarti menjadikan kita rendah diri, minder, atau nggak pede. Apalagi gara-gara ketidakpedean itu kita jadi urung melakukan kebaikan, menuntut ilmu dan amal shalih lainnya. Jika hal itu terjadi pada diri kita, cobalah kita berintrospeksi, apakah sebenarnya malu yang kita rasakan itu karena Allah Swt.  atau karena manusia?. Misalnya saja kita malu memakai jilbab yang syar’i, malu menunjukkan jati diri sebagai seorang pria Muslim atau malu pergi ke majelis ta’lim. Apakah malu yang demikian ini karena Allah Swt. atau hanya rasa malu, ketakutan dan kecemasan kita kepada selain-Nya?.

 

Al-Qurthubi rahimahulloh berkata: “Al-Musthafa (Nabi Muhammad saw.) adalah orang yang pemalu. Beliau menyuruh umatnya agar mempunyai sifat malu. Namun satu hal yang perlu diketahui bahwa malu tidak dapat merintangi kebenaran yang beliau katakan atau menghalangi urusan agama yang beliau jadikan pegangan sesuai dengan firman Allah Swt., yang artinya: “Dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar” (QS: Al-Ahzab: 53)”.

 

Malu, Kunci Segala Kebaikan

Malu merupakan penghalang seseorang untuk melakukan perbuatan dosa. Hasrat seseorang untuk berbuat dosa berbanding terbalik dengan rasa malu yang dimilikinya.

Abu Hatim berkata: “Bila manusia terbiasa malu, maka pada dirinya terdapat faktor-faktor yang mendorong pada kebaikan. Sebaliknya orang yang tidak tahu malu dan terbiasa berbicara kotor maka pada dirinya tidak akan ada faktor-faktor yang mendorong pada kebaikan, yang ada hanya kejahatan.”

Muhammad Ibnu Abdullah Al-Baghdadi melantunkan syair sebagai berikut:

Bila cahaya wajah berkurang,
maka berkurang pula rasa malunya
Tidak ada keindahan pada wajah,
Bila cahayanya berkurang
Rasa malumu peliharalah selalu,
Sesungguhnya sesuatu yang menandakan kemuliaan seseorang,
Adalah rasa malunya.

pernakah kita merasa malu kepada Allah saat bermaksiat kepada-Nya?, Pernakah kita merasa malu kepada Allah saat lalai dalam beribadah kepada-Nya?, pernahkah kita merasa bahwa diri kita adalah seorang hamba yang fakir dan lemah sehingga kita malu kepada-Nya?, Pernahkah kita merasakan keagungan Allah sehingga kita malu kepada-Nya?, atau pernahkah kita merasa bahwa begitu banyak nikmat Allah yang telah tercurah pada kita sehingga kita merasa malu pada-Nya?. Semoga kita termasuk hamba yang senantiasa menjaga dan meningkatkan rasa malu kita kepada Allah Swt. Amiin. Karena para ulama mengatakan, “siapa yang malu kepada Allah, berarti ia telah mencapai tingkatan para wali.” Wallahu ‘alamu bisawwab..

Jadibaru

Orang bijak selalu tinggalkan jejak, :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>