Salim A. Fillah: Arti Tata Kota Yogyakarta & Hubungannya dengan Hakikat Manusia

“Yogya itu ngangeni”, kata mereka yang pernah mengunjunginya. Sebabnya tak satu dan tak baku. Setiap orang punya penjelasannya sendiri, karena kenangan itu menjerat hati, bukan isi kepala. Tapi ternyata bukan hanya kini, bahkan pengunjungnya di perempat abad kesembilan-belas menuliskan kesan ini:

“..Tapi Djocja (Yogyakarta) dalam masa kemuliaannya pastilah merupakan Versailles Jawa. Kini tak sampai sepersepuluhnya yang tinggal utuh, tapi (aslinya dulu) terlihat dari reruntuhan tembok yang besar-besar..”
-Willem von Hogendorp, 1828-

Ahli hukum lulusan Leiden Universiteit ini menyambanginya setelah 3 tahun Perang Diponegoro (1825-1830) berkecamuk. Kala itu, banyak pangeran telah menghancurkan kediaman-kediaman megah mereka di sekitar Kraton sebelum bergabung dengan barisan juang putra sulung Sultan Hamengkubuwana III itu. Pun karena beberapa pertempuran, bangunan-bangunan terbaik telah menjelma jadi reruntuhan.
Bahkan 16 tahun sebelumnya, pada Juni 1812, bombardemen artileri pasukan Inggris selama 4 hari 3 malam di bawah komando Kolonel Robert R. Gillespie telah menghancur-leburkan Benteng Baluwarti terutama di sisi utara hingga timur serta meremuk dan membakar bagian luas dari kraton dan kota yang indah ini.
Sebakda itu, penjarahan oleh Legiun Infanteri ke-14 (Buckinghamshire) dalam bulan Juli yang bahkan melibatkan Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, nyaris menghabiskan semua hal berharga dari Yogyakarta; emas dan perak dalam jumlah mencengangkan, pusaka-pusaka Kraton, naskah-naskah tak ternilai, aneka perhiasan, bahkan sampai kancing baju Sultan Hamengkubuwana II yang terbuat dari berlian tak luput dipreteli.
Yogyakarta yang dilihat Von Hogendorp dalam tugasnya sebagai Ajudan Komisaris Jenderal Du Bus de Gisignies pada 1828, adalah sosok kalah dan lelah yang terluka parah, tapi pesonanya masih memukau. Sebab ia memang suatu Versailles Jawa dalam kejelitaannya, dan bahkan Madinah Jawa dalam nilai-nilainya. Madinah dari suatu tamadun yang madani, yang pada setiap sisi tata kotanya terjabarkan hakikat kemanusiaan, kehambaan, dan kebersamaan.

Yogya itu ngangeni, barangkali karena tata-kotanya memang disusun sesuai bagian terdalam dari diri kita, tentang hakikat hidup kita.

Sultan Hamengkubuwana I, pendiri kota ini, agaknya telah menyeksamai dengan cermat penempatan kratonnya. Di samping faktor kesejarahan bahwa Kota Gede-Karta-Pleret; ibukota Kesultanan Mataram Islam yang didirikan leluhurnya berada di dekatnya; alasan filosofis, militer, geografis, dan sosiologis agaknya membuat beliau bersikukuh untuk memilih Alas Paberingan dan Umbul Pacethokan ini dalam Perjanjian Giyanti tahun 1755.
Berbagai pihak hingga kini memperbincangkan keistimewaan tata-kota Yogyakarta pada mulanya, yang didasarkan pada falsafah hakikat manusia dari Sultan Hamengkubawana I yang dapat kita ringkas menjadi 3 prinsip yang dijiwai 5 nilai:

1. Prinsip Poros, dijiwai oleh “Sangkan Paraning Dumadi”
2. Prinsip Geometris, dijiwai oleh “Hamangku, Hamengku, Hamengkoni” dan “Hamemayu Hayuning Bawana”
3. Prinsip Konfiguratif, dijiwai oleh “Catur Sagatra” dan “Nyawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh”

PRINSIP POROS

Secara harfiah kalimat “Sangkan Paraning Dumadi” bermakna keinsyafan akan asal dan tujuan hidup sebagai makhluq. Dalam pembangunan Kota Yogyakarta, disusun sebuah poros lurus yang seakan meletakkan Kraton berada di pusat dengan Gunung Merapi di ujung utara dan Pantai Parangkusuma di titik selatan. Tetapi lebih dari itu, sejak Panggung Krapyak yang menandai batas selatan kota tua Yogyakarta hingga Keraton adalah pralambang sangkan, asal kehidupan. Adapun dari Kraton hingga Tugu Golong Gilig yang menjadi had utara menguraikan makna paran, tujuan hidup insan.

“Maka hendaklah insan memperhatikan dari mana ia diciptakan. Dia dicipta dari air yang dipancarkan.” (QS Ath Thariq [86]: 5-6)

Panggung Krapyak berujud bangunan persegi bertingkat sebagai perlambang rahim seorang ibu. Di lantai bawah, rusa-rusa dikandangkan. Pada kesempatan tertentu, Sultan dan para punggawa naik ke tingkat atas dengan membawa busurnya. Ketika pintu kandang rusa di bawah dibuka, rusa-rusa berlarian dan para pemanah itupun menembak mereka dengan jemparingnya. Inilah pralambang konsepsi, benih lelaki yang dibidikkan pada benih perempuan.

Panggung krapyak, Yogyakarta

Panggung krapyak, Yogyakarta

Maka kampung di sebelah selatan Panggung Krapyak dinamakan Mijen, yakni tumbuhnya manusia sebagai nutfah, ‘alaqah, dan mudghah, lalu Malaikat pun datang untuk meniupkan ruhnya serta menuliskan ajal, rizqi, ‘amal, serta apakah termasuk orang beruntung ataukah celaka. Lalu tumbuhnya sang janin berlanjut menyempurna. Kelahirannya ditandai dengan nama kampung di sebelah utara Panggung; Mijil.
Jalan yang menghubungkan antara Panggung Krapyak hingga ke gerbang selatan Baluwarti Kraton yang disebut Plengkung Nirbaya di Gading; kanan serta kirinya ditanami pohon Asem (Tamarindus indica) dan pohon Tanjung (Mimusops elengi L.). Inilah penanda bagaimana membesarkan seorang bayi; yakni Asem yang dimaknai harus banyak Mesem (tersenyum) sebagai tanda syukur, sebab sungguh bayi itu amat Sengsem (mempesona). Tanjung bermakna bayi itu harus disanjung sembari menyanjung Penciptanya, suatu cara menumbuhkan berbagai potensinya kelak untuk bekal di usia dewasa.
Memasuki alun-alun selatan, ditandai dengan lima jalan yang berarti kesiapan seluruh panca-indra. Dua jalan utama diberi akses langsung ke dalam tanah lapang; pendengaran dan penglihatan yang terhubung hati-fikiran, semuanya kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Sebagai penandanya, ditanam pohon Asem yang daun mudanya disebut Sinom; karena sipating nom-noman (sifat orang muda) yang mulai memperhatikan penampilan.
Halaman berpasirnya menunjukkan betapa ia bisa ditulisi berbagai hal; belajar di usia emas menggoreskan bekas yang tak mudah hilang. Di tengah alun-alun ditanam pohon Wok, sepasang beringin dengan akar berjumbai. Yang satu berarti brewok (cambang dan jenggot), suatu tanda kedewasaan sekaligus sunnah Nabi untuk dipelihara. Yang satu lagi berarti rambut kemaluan, maka harus dikurung; baligh berarti tiba kewajiban untuk menutup ‘aurat dengan sempurna.

Beringin kembar ALKID Yogyakarta

Beringin kembar ALKID Yogyakarta

Sekeliling alun-alun itu dahulu dirimbuni pohon Pakel (Mangifera foetida L.), Pelem (Mangifera indica), dan Kweni (Mangifera odorata). Pakel sebagai wakil makna ‘Aqil, yakni tidak hanya baligh secara biologis tapi harus optimal dalam kedewasaan akal. Pelem artinya Gelem (mau); yakni bersedia melaksanakan tuntutan syari’at sebab dia sudah mukallaf. Dan Kweni artinya wani (berani); yaitu sanggup bertanggungjawab atas segala perbuatannya.
Beranjak ke utara terdapat Tratag menuju Sitihinggil, lambang bagi jenjang hidup yang dititi dan didaki oleh seorang manusia. Betapapun bentuknya berundak-undak memayahkan, sebagai lambang perjuangan hidup; di kanan dan kirinya ditanam pohon Gayam (Inocarpus fagiferus). Gayam bermakna ayem (tenang dan teduh), ketentraman akan turun ke dalam hati selama seorang hamba bersandar pada Allah dalam ikhtiyarnya.

tata kota jogja
Di Sitihinggil itu, ada Sela Gilang tempat singgasana Sultan diletakkan untuk menyaksikan berbagai gladi, latihan perang, persiapan grebeg, hingga rampogan (pertandingan ketangkasan manusia, kerbau, dan harimau). Sifatnya yang seremonial juga melambangkan pernikahan seorang hamba yang semarak di sela karirnya yang menanjak. Tanaman hias di sekelilingnya berupa Gayam, Soka (Saraca indica), dan Mangga Cempora. Sebaran bunga yang harum ditambah warna kembang merah merona dan putih melambangkah kehidupan asmara sang mempelai yang diharapkan penuh sakinah (gayam), mawaddah (soka), dan rahmah (cempora).
Di dalam Kraton, kehidupan sang hamba Allah sejak dari kehamilan istrinya, tergambar sebagai Kemandungan, kelahiran (Pamengkang), dan seterusnya dia menumbuhbesarkan anaknya diulang sebagai pralambang-pralambang yang lebih rinci daripada yang tergambar antara Panggung Krapyak hingga Sitihinggil Selatan. Tapi pilar dari kesemua itu adalah cinta Allah, cinta Rasulullah, dan cinta Al Quran; sebagaimana setiap tiang dalam bangunan-bangunan di Kraton selalu dipahatkan stilisasi kaligrafi Allah, Muhammad, dan Alif Laam Mim Ra. Kita akan meloncatinya untuk langsung menuju bagian depan Kraton di utara melihat gambaran tentang Paraning Dumadi, tujuan hidup kita sebagai makhluq.
Bangsal Witana, gambaran dari wiwit ana, pemahaman hamba akan jiwanya sendiri sehingga dia mulai menyadari keberadaannya di dunia yang akan segera sirna menuju akhirat yang sejati dan abadi. Bangsal Manguntur Tangkil di Sitihinggil Utara menunjukkan tempat untuk mangun (memperbaiki diri), dan anangkil (mendaki menuju Allah).
Ke depan tampak Tarub Agung, penanda taqarrub kepada Allah Yang Maha Agung dengan 4 pilar: syari’at, thariqat, haqiqat, dan ma’rifat. Di paling depan, Bangsal Pagelaran berdiri megah penanda pager-aran; yang bermakna tak lagi pentingnya nama dan ketenaran dalam pengabdian yang ikhlas. Juga pagelaran dari kata “gilar” yang bermakna telah terang dan tampak luas jalannya.
Dengan demikian, sang hamba mencapai keheningan jiwa dan kelapangan dada seperti tergambar oleh Alun-alun Utara yang dikiblati oleh Masjid Gede Kauman di bagian barat. Di tengah ada beringin Dewandaru, penanda hubungan yang kokoh dengan Ilah sesembahan, dan beringin Janandaru, simbol hubungan yang kokoh dengan sesama manusia. Di sekeliling alun-alun, 64 pohon beringin menggambarkan usia Rasulullah dalam Qamariyah dibulatkan ke atas, senyampang 60 pilar di pagelaran menggambarkan usia Rasulullah dalam Syamsiyah dibulatkan ke bawah.
Keluar ke arah utara, terbentanglah jalan Marga Mulya, yang berarti jalan kemuliaan. Di jalan kemuliaan ini dibentangkan aneka goda dan ujian; akidah dengan Gereja Kidul Loji, rasa takut dengan Benteng Belanda Fort Vredeburg, kekuasaan asing dengan kediaman Residen Gedung Agung, harta dengan Pasar Beringharjo, karir politik dengan Kepatihan Danurejan, dan wanita dengan pasar Kembang.
Sebagai penyambung Marga Mulya; jalannya Malih Obora, yang berarti jadilah kamu obor pelita, siraajan muniira. Justru berbagai godaan itu harus menjadikan sang hamba sebagai Imamul Muttaqin, pemimpin orang bertaqwa yang menjadi suluh teladan bagi sesama. Hingga jika lulus ke ujung, sampailah sang hamba ke Marga Utama; jalan keutamaan yang kini membentang antara rel kereta api hingga Tugu. Inilah tibanya hamba pada saat kehambaan paripurna:
“Hingga apabila dia telah sampai pada usia dewasa dan sampai pada usia empat puluh, dia berdoa, “Wahai Rabbku, tolonglah aku untuk selalu mensyukuri nikmat yang telah Kau anugrahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan untuk beramal shalih yang Engkau ridhai, dan perbaikilah untukku keturunanku. Sungguh aku bertaubat kepadaMu, dan sungguh aku termasuk orang yang berserah diri kepadaMu.” (QS Al Ahqaaf [46]: 15)
Di ujung Marga Utama itulah dulu berdiri kokoh setinggi hampir dua kali lipat bangunan De Witt Paal yang sekarang; Tugu Golong Gilig. Sultan Hamengku Buwana I bila bertakhta di Sitihinggilnya dapat memandang lurus ke puncak tugu yang oleh beliau disebut sebagai Alif Mutakalliman Wahid ini. Di sinilah tegak Tauhid, kalimat suci yang diharapkan terucap di saat nyawa terrenggut, “Laa ilaaha illaLlaah.” Dialah kebulatan tekad (golong) dan juga ketegasan ‘aqidah (gilig). Dialah simbol persatuan raja dan rakyatnya; satu tekad, satu tujuan, untuk menegakkan kehambaan (‘Abdullah) dan pemakmuran bumi (Khalifatullah).
Inilah Krapyak hingga Tugu; poros tauhid di kota ini yang perlu disusuri untuk memahami hakikat kehidupan kita.

PRINSIP GEOMETRIS

Sesuai nama yang disandangnya, pendiri kota Yogyakarta disifati Hamangku (berkhidmat melayani), Hamengku (melindungi dengan kasih sayang sekaligus keadilan), serta Hamengkoni (siap bertanggungjawab atas amanah di pundaknya). Ketiga hal ini pula diwujudkan dalam tata kotanya, yakni kota yang melayani, melindungi, dan memenuhi tugasnya.
Adapun Hamemayu Hayuning Bawana yang menjadi semboyan Sang Sultan bermakna harfiah memperindah keindahan semesta. Hadirnya manusia, juga Kota Yogyakarta hendaknya menjadikan kian indahnya alam kehidupan, makin bermakna, dan bernilai tambah.
Kedua prinsip ini menjadi jiwa dari tata-letak geografis dan diwujudkan dalam hubungan-hubungan geometris yang teratur demi terwujudnya kesemua maksud pembangunan dan pengembangan kota.

“Dan bumi telah Kami hamparkan, maka (Kami) sebaik-baik yang menghamparkan.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 48)

Yogyakarta berdiri di sebuah bentang medan yang datar dengan kisaran lereng hanya 3%, terletak di tengah jazirah Kewu-Mataram yang sejak lama menjadi pusat pemukiman dan pemerintahan beberapa kerajaan. Pengapitnya berupa 3 sungai di barat (Progo, Bedog, Winongo) dan 3 sungai di timur (Code, Opak, Oya) yang menjamin ketersediaan air, menyalurkan air buangan, menjaganya dari banjir, dan sebagai garis pertahanan alami.
Di ufuk utara, tampak Gunung Merapi yang menaburkan kesuburan dengan abu vulkanisnya, sementara bahaya letusan dan awan panasnya ke arah Kota Yogyakarta diperisai oleh bukit kembar; Turgo dan Pelawangan. Di arah selatan, Samudera Hindia yang membentang penuh dengan potensi besar namun bergempa; terbentengi tsunaminya oleh anak perbukitan kapur selatan dari arah Panggang hingga Pajangan.

Alun-alun utara Yogyakarta berpagar kayu
Dengan alun-alun utara berpagar kayu yang sebelum digerogoti oleh pemukiman Belanda dan Tionghoa lebarnya mencapai 1200 meter, Kraton berdiri gagah di selatannya dipagari benteng baluwarti setinggi 4 meter yang kokoh dengan jagang, saluran air pertahanan selebar 3 meter dan bastion yang menjorok keluar di masing-masing sudutnya. Tebal tembok bagian atas mencapai 3 meter, cukup dilewati kereta Sultan, Kanjeng Nyai Jimat, yang sering diiring putra mahkota menunggang kuda berkeliling untuk menginspeksi. Padanya terdapat 5 pintu gerbang utama yang disebut Plengkung; Tarunasura, Madyasura, Jagasura, Jagabaya, serta Nirbaya.

Tamansari - Yogyakarta

Tamansari – Yogyakarta

Di sudut barat laut Keraton dibangun Tamansari yang secara lahiriah tampak sebagai sebuah arena pemandian dan pelesir sampan yang luas, dengan lorong-lorong yang rumit dan pengaturan air yang canggih. Kompleks indah ini semula terdiri atas 59 bangunan, termasuk Masjid, kolam-kolam pemandian, sumur gumuling, dan rangkaian 18 pertamanan beserta paviliunnya yang dikelilingi danau buatan. Dinamakan Segaran yang berarti laut tiruan, danau ini sering menjadi tempat Sultan Hamengkubuwana I menjamu tamu-tamunya di atas perahu, seperti dikisahkan Gubernur Noord-Oost Kust, Jan Greeve dalam kunjungannya pada tahun 1790.
Disebutkan bahwa apabila Keraton dalam keadaan terkepung, arus air dari Kali Winongo di Badran dan Kali Code di Gondolayu akan dibelokkan memasuki Keraton menjadikan kesemua bagiannya terendam menyisakan Pulo Kenongo dan Tajug di tengah Tamansari yang menjadi pusat pengaturan arus air, di mana di bawahnya terdapat lorong-lorong yang tembus hingga keluar Kraton untuk sarana meloloskan diri anggota keluarga kerajaan dan menghimpun kembali kekuatan bersama rakyat.

Perwujudan kota militer
Di luar Tembok Kraton, kompleks-kompleks prajurit secara geometris disusun menurut gelar perang tradisional yang sigap menghadapi bahaya. Di barat melingkar ke selatan; bermukim kesatuan Wirobraja, Patangpuluh, Ketanggung, Bugis, dan Daeng. Di sebelah selatan terdapat kompleks para-komando yang disebut Kumendaman, dengan dijajari oleh kesatuan Mantrijero, Jogokaryo, dan Prawiratama. Di timur melingkar ke utara; kesatuan Nyutra dan Surakarsa. Di sela-sela garnisun berbagai kesatuan perang ini, prajurit kanayakan ditempatkan; Penumping, Sitisewu, Gedongtengen, Gedongkiwa, Numbakanyar, dan Keparak.
Tepat sebelum peristiwa penyerbuan Inggris yang kami sebut dalam pengantar, Jan Izaak van Sevenhoven (1782-1841), pejabat tinggi Belanda yang suka berkelana mengunjungi kota ini pada awal 1812. “Di sepanjang jalan utama menuju Keraton”, kisahnya, “Terdapat pepohonan tinggi dan rindang dengan jajaran rumah tinggal para pangeran serta para pegawai Keraton yang tertata, sementara rumah-rumah penduduk biasa diatur rapi lebih menjorok sedikit ke belakang dari bahu jalan.”
Peter Carey dalam Kuasa Ramalan-nya menggarisbawahi, Yogyakarta di masa sebelum pertempuran 1812 yang dalam khazanah Jawa disebut Geger Sepoi itu memang tak tertandingi sebagai kota Jawa ber-bangunan tembok paling banyak dan tertata, dengan bata serta kapur putih yang dipasok dari daerah Godean dan Gamping di barat lautnya.
Residen Yogyakarta dari pertengahan abad ke-19, A.H.W. Baron de Kock menambahkan tentangnya, “Masa itu, Yogya makmur, kaya, dan indah; negeri subur dan mujur; ibukota cantik dan asri; penuh dengan gedung-gedung bagus, taman-taman tertata rapi, dan pesanggrahan-pesanggrahan yang bagus. Di mana-mana makanan dan air melimpah. Kala itu, perniagaan, kerajinan, dan produksi berkembang. Orang Jawa (Yogyakarta) amat bangga dengan kota kelahiran mereka.”
Alexander de Nelly, seorang di antara murid-murid Johannes Rach dari Denmark, berhasil mensketsa pemandangan Keraton Yogyakarta pada sekira tahun 1771, dari arah alun-alun utara. Tampak di sini dua lapis pagar kayu kokoh yang nantinya akan menjadi Gapura Gladhak dan Gapura Pangurakan. Di tengah panorama, pohon beringin kurung Dewandaru dan Janandaru ditingkahi oleh berbagai paviliun cilik yang apik. Sementara di latar belakang, Tratag Rambat yang tinggi sebagai cikal bakal Pagelaran menjulurkan tembok baluwarti yang kokoh ke arah kanan dan kiri.
Inilah struktur geometri kota yang melayani, melindungi, menunaikan tugas, dan menambahkan makna pada keindahan ciptaan Allah.

PRINSIP KONFIGURATIF

Dengan Kraton sebagai pralambang pemerintahan, Alun-alun sebagai pralambang rakyat, Masjid Gede sebagai pralambang keagamaan, dan Pasar sebagai pralambang perekonomian; unsur-unsur ini disebut sebagai Catur Sagatra yang berarti empat pilar kehidupan sebagai satu kesatuan. Ini memang pola umum tata-kota di Jawa, tetapi peletakannya di Yogyakarta agak istimewa.
Pasar, diletakkan agak menjauh dari tiga unsur lain yang menyatu. Seakan menunjukkan tidak bagusnya kondisi kong-kalikong antara penguasa dan pengusaha; jalan yang dilewati para niagawan itu untuk bertemu Sultan harus melalui alun-alun di mana rakyat mengawasi dan langkah-langkah merekapun tak lepas dari tatap seksama para ‘ulama yang ada di Masjid Agung.
Sebaliknya, kawasan Pekapalan, tempat para Bupati dari wilayah-wilayah jauh datang, menambat kuda, dan menginap sebelum menghadap Sultan; diletakkan dekat sekali dengan Masjid. Sebab di Masjid-lah seharusnya, para penguasa mudah dijumpai dan diajak mengingat Allah atas amanah berat di pundak mereka yang kelak akan dimintai tanggung-jawabnya oleh Allah. Di sekitar Masjid tinggal para Pengulu dan Abdi Dalem Suranata, yang arti harfiahnya adalah berani kepada Raja; berani untuk menyampaikan nasehat dan kalimat yang haq.
Masjid juga memiliki kedudukan tersendiri yang terorganisasi hingga ke berbagai penjuru. Selain Masjid Gede Kauman sebagai pusat, empat Masjid pancer didirikan oleh Sultan sebagai Patok Negara di keempat arah mata angin; Mlangi di Barat Laut, Dongkelan di Barat Daya, Babadan di Tenggara, dan Plosokuning di Timur Laut.
Selain menjadi pusat ibadah Islam, dengan para Imam yang melapor langsung pada Kyai Pengulu Ageng di Masjid Gede, Masjid-masjid Patok Negara ini menjadi tempat pendidikan bagi para santri, pusat syi’ar Islam, hingga pusat koordinasi pertahanan semesta dan ‘sertifikasi halal’. Para Modin desa dididik dan dilantik di sini, yang selain bertugas memimpin ibadah, sampai soal menyembelih hewan untuk konsumsi masyarakat pun hanya mereka yang berhak demi menjamin agar kehalalannya terjaga.
Masjid-masjid ini juga dibangun dengan berbagai unsur pralambang yang dimaksudkan untuk mendidik masyarakat secara terus-menerus. Memasuki halamannya orang akan melihat pohon Sawo (Manilkara zapota) berjajar, dimaksudkan untuk mengingatkan, “Sawwuu shufuufakum, luruskan shaff-shaff kalian.” Pagarnya dipuncaki ukiran buah Waluh (labu kuning), untuk membawa pada tauhid, “Wallah” dan “Qul huwallaahu Ahad.”
Memasuki ruang serambi, tempat di mana Mahkamah Syari’ah biasanya digelar tampak pintu Masjid diukiri gambar wajik. Ini untuk mengingatkan hakikat pengadilan akhirat yang lebih kuat. “Wajii-a yaumaidzin bijahannam, yaumaidzin yatadzakkarul insaanu wa anna lahudz dzikraa.. Dan pada hari itu didatangkan jahannam. Pada hari itu manusia menjadi ingatlah manusia akan segala perbuatannya, tapi apalah guna ingat di saat terlambat itu.” (QS Al Fajr [89]: 23)

Ukiran berbentuk nanas di masjid Gedhe

Ukiran berbentuk nanas di masjid Gedhe

Di langit-langitnya yang indah, ukiran berbentuk buah nanas melambangkan Masjid sebagai tempat berlindung manusia dari segala was-was syaithan kepada Pencipta manusia, Penguasa manusia, dan Sesembahan manusia. Nanas menjadi penuntun membaca salah satu Surat Mu’awwidzatain, “Qul a’udzu bi Rabbinnaas, Malikinnaas, Ilahinnaas..”
Di serambi itu diukirkan sulur-sulur tetumbuhan yang disebut lung-lungan. Maknanya, bahwa segala tujuan ibadah hanyalah untuk Allah, menggapai ridhaNya, hingga lebih masyhur di langit daripada di bumi. “Akarnya kokoh menghunjam dan cecabangnya menggapai langit.” (QS Ibrahim [14]: 24). Pula ia bermakna tulung-tulungan, “Dan saling tolong menolonglah kalian di atas kebajikan dan taqwa.” (QS Al Maidah [5]: 2).
Di puncak Masjid, di atas atap tajuk bertumpang tiga, mustaka Masjid tak berbentuk kubah melainkan ukiran tumpuk daun Kluwih (Artocarpus camansi). Maknanya, segala kaluwihan (karunia, kebaikan, dan keutamaan) adalah milik dan dari Allah; “Qul innal fadhla biyadillah.. Katakanlah (hai Muhammad) bahwa karunia itu di tangan Allah, Dia berikan kepada siapapun yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Luas KaruniaNya lagi Maha Mengetahui.” (QS Ali ‘Imran [3]: 73)
Di jalan-jalan keluar Masjid biasanya tertanam pohon Sawo Kecik (Manilkara kauki). Makna tersiratnya adalah sarwo becik, serba baik lagi penuh kebaikan seperti tertuntut dari orang yang menunaikan ibadah; ia tercegah dari perbuatan keji dan munkar, menebar salam dan manfaat bagi sesamanya.
Keseluruhan konfigurasi tata-kota ini juga menjadi penyelaras bagi watak masyarakat yang diteladankan Sang Sultan; nyawiji (menyatu), greget (penuh semangat pada kebaikan), sengguh (yakin dan meyakinkan), dan ora mingkuh (berani bertanggungjawab).
Demikian uraian ringkas tentang Tata Kota Yogyakarta dengan prinsip poros, geometri, serta konfigurasi yang dijiwai oleh berbagai nilai tentang hakikat kemanusiaan dan kehambaan kita. Disusun untuk mangayubagya ulangtahun Kota Yogyakarta ke-259 pekan ini sekaligus bermuhasabah; “Berapa bagian dari prinsip dan nilai tata kota ini yang telah hilang atau kita hilangkan?”
Bagaimanapun juga; selamat mengunjungi Yogyakarta dan menelusuri hakikat kemanusiaan kita. Ahlan wa sahlan, dan bersiaplah untuk kangen.

——————–
T: @salimafillah
——————–

BACAAN
Brotodiningrat, KPH. 1978. Arti Kraton Yogyakarta. Yogyakarta: Museum Kraton Yogyakarta
Carey, Peter B.R., 2011. Kuasa Ramalan Jilid 1. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia
Depdikbud. 1995. Makna Simbolik Tumbuh-Tumbuhan dan Bangunan Kraton, Suatu Kajian Terhadap Serat Salokapatra. Jakarta: Depdikbud.
Ki Sabdacarakatama. 2009. Sejarah Keraton Yogyakarta. Yogyakarta: Narasi
Ricklefs, Merle C. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Ricklefs, Merle C. 2015. Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi 1749-1792. Yogyakarta: Matabangsa
Soekanto, Dr. 1952. Sekitar Yogyakarta 1755-1825. Jakarta: Penerbit Mahabrata
Suryanto, dkk. 2015. Aspek Budaya Dalam Keistimewaan Tata Ruang Kota Yogyakarta. ITB: Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 26

Jadibaru

Orang bijak selalu tinggalkan jejak, :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *